Ketika senyum itu pun peluh.

Terlalu lelah dgn semuanya. Merasa sia-sia. Mencoba mencari bahagia, namun semu belaka.

Tak ada syukur yang terpanjatkan. Tak ada senyum yang tersunggingkan. Hanya lara, dan kehampaan.

Aku lelah, tak bergairah. Mulai menyalahkan semua yang ada. Menghujat diri sendiri.

Kemunafikan semakin menambah tebalnya. Sulit untuk dikikis lagi.

Mungkin inilah akhirnya. Bak buah simalakama, berhenti dianggap pecundang, maju hanya menambah perih luka.

Mungkin berjalan adalah jawabnya. Berharap bertemu padang rumput dan genangan air disana. Setidaknya, dahagaku terpuaskan.